Di
langit sore itu seorang anak berjalan menatap dengan rasa penasaran yang besar
akan sebuah pertanyaan kehidupan, mengapa,?? Apa.?? Dan kenapa.??, pertanyaan
yang berat bagi seorang anak kecil yang baru mengenal kehidupan yang keras di
bawah langit yang tak beratap dan berlantai, yang ada hanya sebuah tangis dan
air mata yang jatuh di pipi mungil nya, hati siapa yang tak miris melihat
kejadian itu,
ketika anak kecil yang bercerita kepada seorang pemuda yang terjadi
hari itu yang bernama alif rahmat hakim, seorang pemuda yang baru menginjak
semester 4 di sebuah perguruan tinggi di jakarta, sangat miris sebuah ibu kota
sebuah negara menjadi tempat tak indah bagi kaum yang tak punya harta apapun,
kecuali hanya baju di badan, tangan pemuda tadi gemetar seakan mau menampar
wajah nya, agar dia ingin terbangun dari mimpi buruk nya itu, “percuma abang
menampar wajah abang sampai berdarah, kenyataan ini tak kan bisa berubah” kata
seorang anak kecil memekai baju rompang romping itu berbicara dengan pemuda
itu, pemuda tadi tambah gemetar mendengar itu, “iya dek,,” sambil tersenyum
melihat anak kecil itu “oh ya, adek tinggalnya dimana.??” Tanya alif pemuda itu
“hahaha, abang cara nanya salah bang...hahahah” jawaban anak kecil itu “kenapa
kamu tertawa dek.?? Dengan herannya alif bertanya kepada anak itu “hahaha,
bang, kami ini Cuma anak jalanan, selain dijalanan dimana lagi kami akan
tinggal, rumah kami cuma beratapan langit dan berlantaikan tanah, jadi jika
abang bertanya kami tinggal dimana, alamat mana yang akan saya berikan, kecuali
abang nanya ke para pejabat kita,” jawaban yang di berikan oleh anak kecil itu,
dengan sangat harunya alif memandang anak kecil itu, ternyata anak yang kecil
itu dapat berbicara seperti itu, lalu allif berjalan dan mendengar cerita
kehidupan si anak itu, sampai di suatu jalan anak itu berhenti dan “bang, saya
mau cari uang untuk makan dulu ya..” kata anak kecil itu “haaa, emang orang tua
mu mana rizki.??” Tanya alif pada anak yang bernama rizki tersebut “ibu saya sudah meninggal bang, dia lagi di
surga, dan bapak saya sekarang sudah menikah dan tinggal entah dimana” jawab
dengan mata berkaca-kaca di mata anak kecil tersebut “maaf ya dek, kalau
saya....” lansung di jawab rizki “hahaha...gak papa bang, saya sudah muak dalam
kesedihan ini” jawab rizki yang tertawa, “ kamu memang sibatu karang yang
sangat kuat rizki” pujian dari alif kepada rizki, dan mulai hari itu mereka
bersahabat dn alif setiap pulang kuliah selalu menemui rizki yang biasa ngamen
di depan lampu merah