Rabu, 22 November 2017

cerpen



                      Di langit sore itu seorang anak berjalan menatap dengan rasa penasaran yang besar akan sebuah pertanyaan kehidupan, mengapa,?? Apa.?? Dan kenapa.??, pertanyaan yang berat bagi seorang anak kecil yang baru mengenal kehidupan yang keras di bawah langit yang tak beratap dan berlantai, yang ada hanya sebuah tangis dan air mata yang jatuh di pipi mungil nya, hati siapa yang tak miris melihat kejadian itu,

 ketika anak kecil yang bercerita kepada seorang pemuda yang terjadi hari itu yang bernama alif rahmat hakim, seorang pemuda yang baru menginjak semester 4 di sebuah perguruan tinggi di jakarta, sangat miris sebuah ibu kota sebuah negara menjadi tempat tak indah bagi kaum yang tak punya harta apapun, kecuali hanya baju di badan, tangan pemuda tadi gemetar seakan mau menampar wajah nya, agar dia ingin terbangun dari mimpi buruk nya itu, “percuma abang menampar wajah abang sampai berdarah, kenyataan ini tak kan bisa berubah” kata seorang anak kecil memekai baju rompang romping itu berbicara dengan pemuda itu, pemuda tadi tambah gemetar mendengar itu, “iya dek,,” sambil tersenyum melihat anak kecil itu “oh ya, adek tinggalnya dimana.??” Tanya alif pemuda itu “hahaha, abang cara nanya salah bang...hahahah” jawaban anak kecil itu “kenapa kamu tertawa dek.?? Dengan herannya alif bertanya kepada anak itu “hahaha, bang, kami ini Cuma anak jalanan, selain dijalanan dimana lagi kami akan tinggal, rumah kami cuma beratapan langit dan berlantaikan tanah, jadi jika abang bertanya kami tinggal dimana, alamat mana yang akan saya berikan, kecuali abang nanya ke para pejabat kita,” jawaban yang di berikan oleh anak kecil itu, dengan sangat harunya alif memandang anak kecil itu, ternyata anak yang kecil itu dapat berbicara seperti itu, lalu allif berjalan dan mendengar cerita kehidupan si anak itu, sampai di suatu jalan anak itu berhenti dan “bang, saya mau cari uang untuk makan dulu ya..” kata anak kecil itu “haaa, emang orang tua mu mana rizki.??” Tanya alif pada anak yang bernama rizki tersebut  “ibu saya sudah meninggal bang, dia lagi di surga, dan bapak saya sekarang sudah menikah dan tinggal entah dimana” jawab dengan mata berkaca-kaca di mata anak kecil tersebut “maaf ya dek, kalau saya....” lansung di jawab rizki “hahaha...gak papa bang, saya sudah muak dalam kesedihan ini” jawab rizki yang tertawa, “ kamu memang sibatu karang yang sangat kuat rizki” pujian dari alif kepada rizki, dan mulai hari itu mereka bersahabat dn alif setiap pulang kuliah selalu menemui rizki yang biasa ngamen di depan lampu merah












Tidak ada komentar:

Posting Komentar